Kesehatan

Bagaimana Penyakit Jantung Koroner Bisa Terjadi? Inilah Faktanya!

PFI Mega Life
 15 Mei 2020
Penyakit jantung koroner menghantui kelompok usia produktif. Cari tahu penyebab jantung koroner dan cara melindungi diri dari penyakit ini.

Bagaimana Penyakit Jantung Koroner Bisa Terjadi? Inilah Faktanya!

Beberapa waktu lalu, masyarakat dikejutkan dengan kabar meninggalnya penyanyi campursari kenamaan Didi Kempot. Kepergian pria yang dijuluki Father of the Broken Heart itu tergolong mendadak karena tidak dalam kondisi sakit.

Dikutip dari situs Kompas, pihak rumah sakit tempat Didi dilarikan menjelang akhir hidupnya mengatakan diagnosis awal penyebab kematian maestro campursari itu adalah henti jantung. Gangguan atau penyakit jantung memang berbahaya dan bisa merenggut nyawa.

Penyakit jantung koroner adalah ketika pembuluh darah arteri, yang berfungsi mengalirkan darah ke jantung, tersumbat atau mengalami penyempitan akibat terjadi penumpukan plak kolesterol atau zat lain yang menempel di dinding pembuluh. Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah ke jantung berkurang, yang kemudian memicu gejala jantung koroner. Bila gejala jantung koroner tidak segera ditangani, arteri akan tersumbat sepenuhnya dan memicu serangan jantung.

Dikutip dari situs Alodokter, arteri koroner adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kaya oksigen ke jantung. Di tubuh manusia terdapat dua jenis arteri koroner, yaitu arteri koroner kiri utama (left main coronary artery) dan arteri koroner kanan (right coronary artery).

Arteri koroner kiri utama berfungsi mengalirkan darah ke serambi kiri dan bilik kiri jantung. Sementara itu, arteri koroner kanan mengalirkan darah ke serambi kanan dan bilik kanan, serta ke nodus sinoatrial dan nodus atrioventrikular yang mengatur ritme jantung.

Gejala Jantung Koroner

Bagaimana Penyakit Jantung Koroner Bisa Terjadi? Inilah Faktanya!

Berikut gejala-gejala jantung koroner yang perlu Anda waspadai, dikutip dari situs Hellosehat:

1.  Nyeri Dada (Angina)

Salah satu gejala penyakit jantung koroner adalah angina, yaitu saat area otot jantung tidak mendapat cukup asupan oksigen. Bila Anda mengalami serangan angina, rasanya seperti ada rasa menekan pada dada.

Rasa menekan pada dada juga bisa menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang, atau punggung. Meski begitu, bukan berarti semua nyeri dada adalah gejala jantung koroner. Angina juga bisa disertai gejala lain, seperti keringat dingin.

2.  Keringat Dingin dan Mual

Saat pembuluh darah menyempit, otot-otot jantung kekurangan oksigen sehingga menyebabkan suatu kondisi yang disebut iskemia. Kondisi ini memicu keluarnya keringat berlebih dan penyempitan pembuluh darah. Kejadian ini sering dideskripsikan sebagai keringat dingin. Iskemia juga bisa memicu reaksi mual dan muntah.

3.  Sesak Napas

Saat jantung Anda tidak berfungsi dengan normal, maka pernapasan pun terganggu. Anda menjadi rentan mengalami sesak napas. Sesak napas yang merupakan gejala penyakit jantung koroner biasanya terjadi berbarengan dengan nyeri dada.

Berbeda dari pria, gejala jantung koroner pada perempuan lebih beragam dan sulit dikenali. Misalnya, sebagian perempuan merasakan angina tidak di dada, tetapi di bagian punggung, bahu, lengan, atau rahang. Perempuan juga lebih sering mengalami mual, muntah, gangguan pencernaan, napas pendek, atau kelelahan ekstrem.

Dikarenakan gejala-gejala tersebut termasuk umum, banyak dokter maupun perempuan penderita yang menyalahartikan gejala jantung koroner sebagai gejala penyakit lain, seperti diabetes, nyeri otot dan tulang, atau bahkan gangguan pencernaan. Akibatnya, penyakit jantung koroner pada perempuan sering berdampak pada hasil perawatan yang buruk.

Penyebab Jantung Koroner

 

Dikutip dari situs Alodokter, penyempitan pembuluh darah dipicu penumpukan kolesterol dan pembekuan darah di dalam arteri atau disebut aterosklerosis. Ada sejumlah faktor risiko yang dapat memicu timbulnya penyakit jantung koroner. Sebagian faktor tersebut dapat dikendalikan, namun sebagian lagi tidak.

1.  Usia

Pada dasarnya, risiko tiap orang untuk menderita penyakit jantung koroner akan meningkat seiring pertambahan usia. Dikutip dari situs Healthline, ini karena plak cenderung menumpuk seiring waktu.

Risiko pria untuk menderita penyakit jantung koroner meningkat saat ia mencapai usia 45 tahun, sedangkan pada perempuan adalah saat ia mencapai usia 55 tahun. Pada perempuan, risiko untuk meninggal akibat jantung koroner makin tinggi setelah melewati menopause.

2.  Riwayat Keluarga

Bila ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit jantung, Anda pun termasuk berisiko untuk terkena jantung koroner. Risiko Anda makin tinggi bila ayah atau saudara laki-laki mendapat diagnosis jantung koroner pada usia di bawah 55 tahun, atau bila ibu atau saudara perempuan mendapat diagnosis tersebut sebelum berusia 65 tahun. Dengan mengetahui riwayat jantung koroner pada keluarga, Anda dapat melakukan langkah-langkah pencegahan dari penyakit jantung.

3.  Kadar Kolesterol Tinggi

Kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang tinggi dapat meningkatkan risiko Anda terhadap jantung koroner. Begitu juga bila kadar high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik di tubuh Anda rendah, Anda perlu waspada karena kedua kondisi tersebut dapat memperbesar risiko penyumbatan pada arteri yang kemudian dapat memicu penyakit jantung koroner.

4.  Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat menyebabkan otot jantung membesar dan tidak bergerak dengan benar. Jagalah tekanan darah Anda supaya tetap normal, yaitu di bawah 120/80 mmHg. Bila setelah menjalani gaya hidup sehat tekanan darah Anda tetap tinggi, cobalah berkonsultasi dengan dokter mengenai kemungkinan perlunya Anda mengonsumsi obat penurun tekanan darah.

5.  Menderita Diabetes

Pada penderita diabetes mellitus, tubuhnya tidak dapat memproduksi insulin secara cukup atau menggunakan insulin dengan baik. Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan glukosa di aliran darah.

6.  Obesitas

Berat badan berlebih atau obesitas meningkatkan risiko seseorang terhadap penyakit jantung koroner secara drastis. Ini karena kondisi obesitas umumnya diikuti dengan tekanan darah tinggi atau diabetes mellitus, dua faktor risiko lain dari penyakit jantung koroner. Orang yang kegemukan umumnya memiliki gaya hidup yang kurang sehat, seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak tinggi dan jarang beraktivitas fisik.

7.  Merokok

Kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor risiko utama yang dapat memicu terjadinya aterosklerosis. Risiko timbulnya penyakit jantung koroner makin tinggi bila perokok memiliki anggota keluarga dengan riwayat jantung koroner.

Menurut data dari Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 70 persen kematian di dunia (2015) disebabkan penyakit tidak menular. Dari seluruh kematian akibat penyakit tidak menular tersebut, sekitar 45 persen disebabkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Jantung koroner adalah jenis penyakit jantung yang paling banyak terjadi dibandingkan penyakit jantung lainnya.

Dari tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit jantung selalu meningkat. Di Indonesia, jumlah penderita jantung koroner mencapai lebih dari 2 juta orang. Sebagian besar penderitanya mendapat diagnosis penyakit jantung koroner pada usia antara 45 dan 54 tahun.

Lindungi Diri dari Penyakit Jantung Koroner

Bagaimana Penyakit Jantung Koroner Bisa Terjadi? Inilah Faktanya!

Penyebab jantung koroner adalah gaya hidup yang kurang sehat. Karena itu, para ahli kesehatan sering mengingatkan bahwa penyakit ini sebenarnya dapat dihindari. Cara melindungi diri dari penyakit jantung koroner adalah dengan menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol tetap normal. Berikut langkah-langkah utama yang dapat Anda lakukan untuk mewujudkan kondisi tersebut:

1.  Mengonsumsi Makanan Sehat

Termasuk makanan sehat adalah yang rendah lemak dan tinggi serat, seperti sayuran dan buah-buahan. Batasi konsumsi makanan berkadar garam tinggi karena dapat meningkatkan tekanan darah.

Hindari konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh seperti lemak trans karena dapat menaikkan kadar kolesterol di darah. Perbanyak konsumsi makanan yang mengandung lemak tak jenuh untuk membantu meningkatkan kadar kolesterol baik dan mengurangi penyumbatan di arteri. Contoh makanan yang kaya akan lemak tak jenuh: minyak ikan, avokad, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah zaitun.

2.  Aktif Bergerak

Selain mengonsumsi makanan sehat, Anda juga perlu aktif bergerak, baik secara umum maupun berolahraga secara rutin. Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari. Dengan banyak melakukan kegiatan fisik, Anda dapat menekan risiko timbulnya tekanan darah tinggi.

Olahraga rutin juga akan menyehatkan jantung dan sistem peredaran darah, menurunkan kadar kolesterol, mempertahankan tekanan darah pada level normal, serta menjaga berat badan tetap normal.

3.  Stop Merokok

Menyetop kebiasaan merokok berkontribusi secara signifikan dalam menurunkan risiko Anda terhadap penyakit jantung koroner maupun penyakit berbahaya lainnya.

Jantung koroner merupakan penyakit berat yang membutuhkan pengobatan yang tidak sebentar. Salah satu cara pengobatan jantung koroner adalah dengan pemasangan ring atau stent jantung, yaitu tabung logam yang dimasukkan ke arteri. Prosedur ini bertujuan melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat di bagian jantung.

Upaya pengobatan jantung koroner yang lain adalah dengan operasi bypass jantung. Pada prosedur ini, dokter berusaha membuat “jalan pintas” pembuluh darah baru agar jantung tetap dapat memperoleh suplai darah.

Bisa dipastikan biaya yang dibutuhkan untuk kedua pengobatan tersebut tidak sedikit. Di Indonesia, untuk pemasangan satu ring jantung saja perlu mengeluarkan uang di atas Rp 50 juta. Biaya operasi bypass jantung sudah pasti mencapai ratusan juta rupiah.

Belum lagi biaya rawat inap, perawatan, pemeriksaan, dan obat yang harus diminum pascaoperasi. Tanpa persiapan atau perlindungan yang baik, penderita jantung koroner harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar guna membayar pengobatan penyakit jantung koroner.

Karena itu, perbaiki gaya hidup Anda. Lakukan langkah-langkah perlindungan yang tepat untuk menjauhkan diri dari risiko terkena jantung koroner. Selain itu, lindungi diri maupun keluarga Anda dari risiko kerugian finansial akibat menderita suatu penyakit. Miliki asuransi kesehatan yang akan membantu meng-cover biaya berobat serta pemeriksaan medis Anda saat harus menjalani pengobatan.

Asuransi Mega Hospital Investa dari PFI Mega Life menawarkan manfaat yang dapat mengurangi beban biaya Anda saat tiba-tiba mendapat musibah sakit. Mega Hospital Investa memberikan manfaat perlindungan berupa santunan rawat inap karena sakit atau kecelakaan, santunan rawat inap ICU/ICCU, santunan meninggal dunia karena sakit dan kecelakaan, serta pengembalian premi (no claim bonus). Semua manfaat itu bisa Anda rasakan sampai usia 60 tahun.

Produk asuransi kesehatan Mega Hospital Investa menawarkan manfaat perlindungan nyaman, dengan premi yang harus dibayarkan ramah di kantong. Anda bahkan dapat memilih rencana pembayaran premi sesuai kondisi dan kemampuan Anda.

Segera miliki asuransi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan diri saat ini maupun masa depan. Jangan menunggu sampai risiko sakit meningkat untuk punya asuransi kesehatan. Makin cepat Anda memiliki asuransi kesehatan, manfaat yang didapat akan terasa lebih maksimal.

Berikan komentar anda

TERIMA KASIH TELAH MENGHUBUNGI KAMI

Kami akan meninjau dan mengkonfirmasi komentar Anda.